Ketika tak sengaja melewati Lamongan pada sore hari, mata saya tertuju ke deretan ibu-ibu yang menjual "sesuatu" sambil nglempoh (duduk) di pinggir jalan. Penasaran, maka saya mencoba mendekat sambil bertanya sana-sini, apakah yang menarik mata itu?
Sekilas kelihatan cuma bakul nasi beserta lauk pauk yang bermacam-macam seperti nasi campur. Ternyata, ini adalah makanan tradisional yang tetap eksis di lamongan yang namanya adalah "sego boranan" (nasi boranan).
Para ibu-ibu penjual nasi ini berjejer-jejer di sepanjang jalan di kota Lamongan, dengan dikelilingi para pembeli yang asyik lesehan di tikar, sambil menikmati sego boranan yang disajikan di pincuk daun.
Nama sego boranan diambil dari wadah tempat menaruh nasi, boran, keranjang terbuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Keempat sudutnya disangga bambu supaya tak menyentuh tanah langsung. Lauk ditempatkan di ember besar dan sambal di panci. Semua disunggi di punggung ibu-ibu dengan jarik gendong (selendang).
Harga seporsi sego boranan ini sekitar Rp 5000, tergantung dari lauk pelengkap yang dipilih pembeli. Ada ayam goreng, udang, tempe, tahu, telur asin, telur ceplok, telur dadar, jerohan, ikan bandeng, ikan kuthuk, pletuk, ikan sili, empuk, rempeyek kacang atau teri, urap, dll.
Selain lauk yang banyak ragamnya, sego boranan ini juga terkenal dengan sambalnya yang yahud. Sambal yang berbentuk kuah ini, terasa gurih karena ada parutan kelapa di dalamnya. Rasanya yang pedas dan gurih, menambah kenikmatan menyantap sego boranan.
Tak terasa malam sudah menjelang, pembeli sego boranan masih ramai mengerumuni para ibu-ibu penjualnya. Rasa penasaran saya akhirnya terjawab sudah, lain kali... pasti mampir lagi ke Lamongan, untuk menikmati sego boranan yang gurih dan nikmat.
Sekilas kelihatan cuma bakul nasi beserta lauk pauk yang bermacam-macam seperti nasi campur. Ternyata, ini adalah makanan tradisional yang tetap eksis di lamongan yang namanya adalah "sego boranan" (nasi boranan).
Para ibu-ibu penjual nasi ini berjejer-jejer di sepanjang jalan di kota Lamongan, dengan dikelilingi para pembeli yang asyik lesehan di tikar, sambil menikmati sego boranan yang disajikan di pincuk daun.
Nama sego boranan diambil dari wadah tempat menaruh nasi, boran, keranjang terbuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Keempat sudutnya disangga bambu supaya tak menyentuh tanah langsung. Lauk ditempatkan di ember besar dan sambal di panci. Semua disunggi di punggung ibu-ibu dengan jarik gendong (selendang).
Harga seporsi sego boranan ini sekitar Rp 5000, tergantung dari lauk pelengkap yang dipilih pembeli. Ada ayam goreng, udang, tempe, tahu, telur asin, telur ceplok, telur dadar, jerohan, ikan bandeng, ikan kuthuk, pletuk, ikan sili, empuk, rempeyek kacang atau teri, urap, dll.
Selain lauk yang banyak ragamnya, sego boranan ini juga terkenal dengan sambalnya yang yahud. Sambal yang berbentuk kuah ini, terasa gurih karena ada parutan kelapa di dalamnya. Rasanya yang pedas dan gurih, menambah kenikmatan menyantap sego boranan.
Tak terasa malam sudah menjelang, pembeli sego boranan masih ramai mengerumuni para ibu-ibu penjualnya. Rasa penasaran saya akhirnya terjawab sudah, lain kali... pasti mampir lagi ke Lamongan, untuk menikmati sego boranan yang gurih dan nikmat.



Saturday, October 15, 2011
Any Loanita

Posted in:
